Sabtu, 03 Maret 2012

The Good Step Mother



Apa rasanya memiliki pasangan yang memiliki masa lalu yang terus membayangi kehidupan ? saya berseloroh, seperti memakai sepatu kulit yang sekian lama telah menjejaki lumpur hitam pekat, dan ketika menginjak lantai, meskipun dengan segala daya upaya meruntuhkan sisa lumpur tadi. Toh, tetap saja, bau lumpur rawa yang pekat terus membayangi dan membawa aromanya ke seisi ruangan. Seperti hati yang pernah tertoreh, lukanya seakan sudah sembuh, tapi ternyata bekasnya masih tampak.


Bagaimana dengan memiliki pasangan yang memiliki sejarah hubungan yang gagal dimasa lalu? Kemudian, dari hubungan di masa lalu itu, membuahkan beberapa orang anak yang tidak bersalah yang kemudian tercerai berai oleh permasalahan orangtuanya. Perceraian memang sedikit banyak berimbas kepada psikologis si anak. Dengan bayangan yang dibuatnya sendiri, si anak mesti dipaksa ditarik keluar ke dunia orang dewasa untuk memahami apa makna dari kata perceraian orangtuanya. Makna perceraian ini bisa bermacam-macam tergantung bagaimana sang anak merasakannya. Ada sang anak yang merasakan kepedihan saat tidak bisa melihat ayahnya atau ibunya ada dirumah lagi, kasih sayang yang dulu didapatkan dari kedua orangtua sudah tiada lagi, ada sang anak yang merasakan terpisahnya dia dengan saudaranya karena pembagian hak asuh, atau ada anak yang kemudian merasakan bahwa dengan bercerai, entah ayah atau ibunya akan menikah lagi dengan seseorang yang ia tak kenal siapa orangnya.

Saya teringat pada tokoh kartunnya Disney, Cinderella yang memiliki ibu tiri yang super duper galak judes dan suka banget nyuruh-nyuruh Cinderella mengerjakan pekerjaan rumah. Atau jaman dulu, ada film alm. Ateng yang pernah diputar di TVRI yang berjudul “Kejamnya Ibu kota tak sekejam ibu tiri” yang membuat saya lantar berpikir. Kenapa ya ibu tiri selalu digambarkan sebagai ibu yang galak kepada anak tirinya? Saya mencoba membayangkan, memahami dan merenungkan. Seperti apakah dikotomi citra ibu tiri dan ibu kandung.

Ibu kandung adalah sosok yang tiada duanya. Dialah yang mengandung dan melahirkan kita. Sejak awal, ia menyadari ada kehidupan baru yang dititipkanNya untuk dirawat. Allah mempersiapkan si ibu selama 9 bulan sehingga si ibu siap menerima titipanNya dan merasakan kebahagian yang luar biasa sehingga dapat mengasihi titipanNya itu. Ketika Allah menitipkan kehidupan baru, Dia pun mencukupinya dengan kelimpahan rejeki sehingga rejeki itu dapat digunakan untuk merawat dan membesarkan titipanNya itu. Apakah semua ibu kandung merasakan hal ini? Saya tak yakin.. kita bisa simak dari pemberitaan wara wiri di televisi, ibu-ibu yang menelantarkan bayi yang baru dilahirnya dengan membuang di tempat sampah atau tega menjual anaknya untuk sekian rupiah bahkan ada ibu yang kemudian dengan hilang akalnya, menhilangkan nyawa anaknya untuk berbagai dalih perekonomian dan permasalahan lainnya. Ya Rabb.. !! seakan semua itu jauh dari pandangan mata kita, padahal sebenarnya di sekitar kita pun bukan tak mungkin bisa dijumpai kasus-kasus seperti itu.


Nah, bagaimana dengan ibu tiri. Ada yang pernah menonton serial Si Doel Anak Sekolahan? Pasti tahu dengan tokoh bernama Zaenab yang diperankan apik oleh Maudy Koesnaidi. Dalam serial ini pun, diceritakan bagaimana Zaenab memiliki ibu tiri yang juga jutek dan demen banget ngejodohin Zaenab sama si Ahong. Awalnya, Zaenab tidak tahu kalau mpok Tonah ini adalah ibu tirinya. Sampai suatu episode, si mpok Tonah cerita kalau walaupun dia ini ibu tirinya,tapi dia tetap ingin yang terbaik buat Zaenab (maaf kalau lupa yang beneran ceritanya) . Ibu Tirinya Zaenab yang ini, memang divisualisasikan seperti ibu tiri yang galak. Meskipun begitu, dialah yang merawat Zaenab sedari kecil, merawat anak yang tidak dikandungnya. Menjadi ibu tiri, mungkin bukan hal yang diinginkan olehnya, bukan hal yang bisa dielakkan olehnya. Lepas daripada segala kekurangan dan kelebihannya, dia menyayangi Zaenab seperti anaknya sendiri.


Ketika seorang wanita mejadi ibu, tentu berbagai tugas dan tanggung jawab wajib ia jalankan. Berbagai hal harus ia kerjakan sehingga waktu, pikiran dan tenaganya tersita untuk hal-hal baru yang tiba-tiba saja harus ia lakukan. Berbagai hal pun harus dipahami dengan seksama. Hal-hal yang saya sebutkan diatas, salah satunya adalah berdamai dengan masa lalu suami. Atau hal-hal lainnya, seperti penolakan dari sang anak tiri, konflik masa lalu yang merembet dari sang mantan istri (It's a shame that some ex's feel that just becasue they have a child with there ex's that they still need to be involved with there ex's new life relationship), kondisi finansial yang jauh dari stabil, dan sebagainya.

Dengan segala problematika yang telah dikomitmenkan ketika pernikahan, mereka perlahan mencoba membentuk imaji “ibu tiri” nya sendiri. Imaji ini memerlukan bahan bakar yang dinamakan “Ketulusan”. Disini, teori seakan tidak lagi berguna, karena ilmu ikhlas dan sabar lah yang menjadi ingredient utama hubungan antara ibu tiri dan anak. Dalam prakteknya pun, saya rasa entah mengapa sulit menemukan buku tips untuk para ibu tiri yang baik. Bolak-balik berada di toko buku, saya sering menemukan hanya buku menjadi ibu yang baik, menjadi ibu yang super, menjadi ibu yang number one untuk anaknya. Tapi tidak pernah dicantumkan..ibu (tiri).??


Dan saya pun kemudian menyimpulkan bahwa ibu dengan kata keterangan yang mengikutinya, merupakan sebuah penghormatan. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak menghormatinya. Seperti Goodmother, will be. Saya percaya ibu tiri dengan relativitas persepsinya pada hubungan dengan anak tirinya, juga memiliki hak untuk dihormati. Tak selalu ibu tiri adalah seorang yang jahat dan bengis. Tak selalu juga ibu kandung adalah peri yang baik hati, yang selalu mengasihi dengan ketulusan hati. Dan sekali lagi, kata nya ahli Neuro psikologi, manusia tidak membutuhkan sekedar hormon prolaktin dan oksitosin untuk mengukuhkan insting keibuannya. Dengan hormon yang tidak diproduksinya, ibu tiri pun memiliki kesempatan yang sama tuk menjadi Goodstepmother, will be. Entah bagaimana dan bilamana...

...
Late night, my husband getting ill, fresh milk, sleepy and prayer for my stepchildren.
Amin.
Ask: Will I?

Minggu, 15 Januari 2012

Ibu



Kata Ibu bermakna sangat dalam. Kita tahu bahwa dalam ajaran agama apapun, kita diwajibkan untuk bersikap hormat kepada ibu, berbakti padanya, dan menjungjungnya sebagai seorang yang tiada duanya untuk disayangi. Ada banyak kata turunan dari kata ibu ini. Ada ibu kandung, ibu kost, ibu negara, ibu kantin, ibu angkat, ibu guru (bu guru), ibu kepala sekolah, ibu menteri, ibu bupati, ibu-nya Prita, ibu-nya Dono, ibu-ibu dan sejuta arti kata ibu. Bahkan kata ibu pun menurun pada kata Ibu tiri.


Skema kognitif yang tertanam dalam benak kita, adalah seorang ibu seperti dalam buku ini ibu Budi. Baik hati, melindungi, arif, bijaksana, pintar masak, lembut, pintar semua pekerjaan rumah, jago mengelola keuangan keluarga, dia segala-galanya deh. Dengan skema kognitif seorang ibu yang seperti ini, sebagai perempuan, tentu saja kita mengarahkan citra ideal seorang ibu menjadi seperti yang disebutkan diatas.

Bagi seorang laki-laki pun demikian, ia akan mencari sosok yang bisa jadi ibu bagi anak-anaknya yang sesuai dengan citra ideal yang diharapkannya. Bagi seorang anak, yang belajar dari lingkungan di sekitarnya, akan mencoba selalu membanding-bandingkan sosok ibu ideal yang diinginkannya dengan ibu yang dimilikinya.
Tentu saja, tidak akan pernah ada ibu yang sempurna.

Menyimak dari meningkatnya kasus ibu yang membuang anaknya setelah dilahirkan, membuat kita terperangah.. lho, Harimau aja tidak akan memakan anaknya, ini koq, manusia tega-teganya membuang darah dagingnya sendiri. Lepas dari gangguan jiwakah, masalah perekonomian kah, malu karena hamil diluar nikah kah, seorang perempuan dianugerahi hormon prolaktin dan oksitosin yang membentuk insting keibuan. Hormon ini produksinya akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya janin dalam kandungan, dan ketika sang ibu menyusui. Tidak seperti binatang, yang hormonnya akan habis seiring dengan bertambah besarnya anak, manusia tidak perlu suntikan hormon untuk membentuk insting keibuan.

Lantas, mengapa manusia yang paling sempurna indra dan akal-nya bisa tega-teganya melakukan hal itu. Saya lantas teringat pada buku yang ditulis oleh Syasya Azisya yang berjudul Rich Mom Poor Mom (2010). Dalam bukunya tersebut, Syasya mengulas tentang seperti apakah Rich Mom dan seperti apakah Poor Mom itu. Seperti yang dikatakan Rasulullah SAW,

“ Jika anak Adam meninggal, maka amalnya terputus kecuali dari tiga perkara, sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang berdoa kepadanya.” (HR Muslim).

Menjadi seorang ibu adalah menabung investasi, dimana anak adalah “passive income” untuk orang tua diakhirat. Maka dari hadist inilah, seharusnya memicu para ibu untuk berlomba-lomba menuntun putra-putrinya dengan ikhlas mencapai akhlak yang mulia, sehingga kelak akan mengalirlah doa yang tak pernah putus dari anak soleh/ solehah, saat kita berada di alam kubur.

“Al Ummu madrasatul 'ula”, sebaik-baik madrasah adalah ibu. Melihat peran penting seorang ibu di dalam keluarga, maka sangat dibutuhkan sosok teladan yang memiliki kekayaan sejati. Seperti yang dikutip buku ini, yang kemudian diuraikan oleh penulis, menurut Dr. John F. Demartini [h.62] setiap manusia memiliki tujuh anugerah rahasia untuk mewujudkan kebahagiaan. Salah satu poinnya yang dirasa sangat penting untuk dioptimalkan oleh para ibu, yaitu anugerah mental. Melihat perjuangan seorang ibu yang pastinya begitu berat, akan sangat membutuhkan mental yang tahan banting dengan berbagai kondisi yang bisa terjadi di lingkungan diri maupun keluarga. Salah satu hal yang membutuhkan mental kuat, adalah sifat pantang menyerah seorang ibu untuk terus belajar kreatif dalam membimbing putranya menggali potensi.

Perspektif setiap orang tentang Ibu Kaya Ibu Miskin tentu saja berbeda, begitu juga dengan anak-anaknya. Seperti yang dituturkan oleh Fadli dalam buku ini, remaja berusia 16 tahun, "Bagi saya ibu kaya adalah yang memiliki kesabaran, tidak galak dan nggak pernah memaki anaknya sendiri serta mampu menjadi teman atau sahabat bagi anak-anaknya. Sedangkan ibu miskin adalah seorang ibu yang tidak sabar, galak, dan kasar pada anaknya sendiri."

Nah, Kasus ibu yang kasar kepada anaknya sangat mudah dijumpai. Tidak jarang terlihat ibu yang suka memutus keingin-tahuan anaknya, dengan cara memarahi saat si anak berkali-kali menanyakan sesuatu. Atau kasus tentang ibu yang kerap menyumpah-serapahi anaknya setiap kali marah, padahal semua pasti tahu bagaimana bertuahnya ucapan seorang ibu. Betapa menyeramkannya sebuah kata yang terucapkan oleh ibu ketika ia menyumpah. Walaupun tanpa sadar, dengan alasan ingin mengajari anaknya, atau untuk melampiaskan emosi pada anaknya, tentu saja, seorang ibu sangat perlu berhati-hati pada apa yang diucapkannya.

Suatu hari, saya sempat terperangah oleh seorang keponakan yang usianya masih balita, tapi fasih sekali mengucapkan kata-kata yang tidak pantas diucapkan. Ia mungkin tidak tahu apa arti dari kata-kata yang tidak pantas diucapkan tersebut, tapi hal yang mengusik benak saya adalah, karena ibu nya sendiri pun sering sekali mengucapkan kata-kata yang tidak pantas tersebut. Anak-anak belajar meniru, dan mengolah dengan gayanya sendiri. Di hari lain, saya sempat terperanjat lagi oleh kejadian dimana sang ibu tega membawa serta anaknya sendiri untuk memasuki rumah orang lain, dan mengambil barang yang bukan miliknya. Tidak itu, saja, ketika dipergoki, ia justru berteriak-teriak, memaki, dan menyerang secara verbal langsung kepada orang yang memiliki barang yang diambilnya. Percaya tidak percaya, tapi entahlah, bagaimana naluri keibuan bekerja ketika ia mencubiti anaknya, atau tega menfitnah anaknya sendiri dengan mengatakan anaknya sakit demi untuk mendapat uang.

Lantas, apa arti kata ibu. Bila kita tidak menyematkan diri kita pada penghargaan setinggi-tingginya pada arti kata ibu.
Nah, sebagai perempuan, saya pun sering bertanya-tanya.

“ Apakah saya akan menjadi ibu yang baik, nantinya? “

Pertanyaan ini sekian tahun mengusik diri saya. Toh, walaupun saat ini, saya dan suami belum dikaruniai anak, saya sudah mendapatkan tiga anak dari pernikahan suami sebelumnya. Resmi sudah, ketika menikahinya, saya pun juga menikahi anak-anaknya. Ketika masih kecil, skema kognitif yang tertanam dalam benak saya pun sama dengan karakter ibu tiri yang diceritakan dalam sinetron dan film-film. Sungguh, tidak pernah sekalipun dalam benak saya bahwa saya (alhamdulillah) berjodoh menjadi ibu tiri.
Saya pun kemudian bertanya, “apakah saya akan menjadi ibu tiri yang baik, nantinya?” dan pertanyaan ini, pun tak akan pernah terjawab menjadi sekedar bilangan biner. Karena jawaban iya dan tidak, hanya terbukti dengan perbuatan. Setidaknya, saya selalu berdoa, semoga saya diberi kesempatan untuk berproses menjadi ibu. Apapun kata turunan dibelakangnya, menjadi ibu adalah pengalaman yang menakjubkan. Dan seiring waktu, realita yang berpijak, saya percaya, manusia tidak perlu sekedar kode DNA untuk mengikatkan diri dalam bahasa kasih sayang keluarga.

Ibu. Apapun kata turunan dari ibu. Ibu adalah penghormatan. Ibu. Apapun hormon yang dikeluarkan endokrin untuk menyelimuti perasaan kasih dan menyayangi, ibu adalah ibu. Darinya kita lahir, tumbuh, dan berkembang. Darinya kita hidup, mengindra kepada bentuk segala rupa dunia. Pelukannya adalah endorphin yang memberi makan jiwa. Usapannya adalah ketenangan yang membawa kerinduan sampai dewasa. Dia adalah inspirasi. Sumber dari bagaimana mata memandang, bagaimana hidung mencium, bagaimana telinga mendengar, bagaimana kulit menyentuh, dan seluruh indra yang dianugerahi Tuhan. Ia membebaskan, menghangatkan, membuka lebar-lebar molekul oksigen, dan membiarkan cahaya masuk lewat celah retina.

Belajar menjadi seorang ibu, tidak hanya sebuah kelas belajar kehidupan yang nyata, tapi juga pengakuan bahwa kesempatan untuk berproses menjadi lebih baik itu selalu ada. Seiring dengan proses menjadi ibu, kita akan belajar mengenali diri kita. Ibu seperti trigger penyemangat, juga katalisator emosi dalam keluarga. segala perasaan berkecamuk, berpusat pada aura-aura seorang ibu. Tentu saja, seperti yang telah dikemukakan oleh Syasya Azisya, menjadi ibu adalah investasi tiada duanya. Alih-alih menuntut anak untuk tidak durhaka pada orangtua, terkadang pertanyaan saya sebaliknya,

“Apakah ada orangtua yang mengakui bahwa ia durhaka pada anaknya?”

Biarkan kita bermetarmorfose..
Semoga hari ini, bahasa kasih kita sedikit lebih lembut dan waktu akan mengiringi setiap kata yang terucap, setiap perbuatan, setiap niat yang terpetik dalam hati.

Mari menjadi Ibu yang Baik..
Semoga dan Selalu Tuhan mendengar pinta kita..
Bismillah

Amin

Nina,
Pagi hari menuju siangnya,
Tak perlu kukatakan bahwa aku tak mengenalmu.. tapi entah mengapa sulit memahamimu.

sumber gambar
http://2.bp.blogspot.com/_L3BEzclyZGo/TP3miwdVqYI/AAAAAAAAAAQ/7IqbXqb5mK0/s1600/mother-and-child1.jpg

Minggu, 18 September 2011

(Actually) What a man want from a women?



Tulisan ini diinspirasi dari satu bahasan dalam Feminisme : Sebuah Kata Hati yang ditulis oleh Gadis Arivia (2006). Pertanyaan tentang apa yang sebenarnya diinginkan laki-laki dari perempuan, merupakan pertanyaan yang menarik bagiku. Bila ditanyakan kepada laki-laki, apa yang mereka benar-benar idamkan dari seorang perempuan, maka sebagian besar dari mereka akan menjawab bahwa mereka mencari kecantikan lahiriah. Well, bisa dilihat ketika menonton salah satu reality show berjudul “ Take me Out”, para lelaki mengajukan kriteria kekasih dengan atribut-atribut fisik. Tapi tidak hanya lelaki, perempuan pun juga seperti itu (di reality show ini).

Studi di US menunjukkan bahwa selama lebih dari 50 tahun, pria masih menjawab hal ini. Kecantikan lahiriah seperti wajah cantik, manis dan tubuh yang sexy menjadi indikator dari kemenarikan seorang perempuan. Gadis Arivia (2006) juga menyebutkan satu riset pada tahun 1996 di 13 negara yang menunjukkan bahwa laki-laki menyukai perempuan yang memiliki payudara montok yang seimbang dengan bentuk tubuhnya, bibir yang penuh, mata besar, pinggang yang ramping, yang menyerupai gitar spanyol.

Perempuan yang menarik versi laki-laki inginkan ini, memiliki bobot tidak terlalu gemuk dan terlalu skinny. Sebagian besar laki-laki memilih perempuan yang berlekuk indah dengan bokong yang bulat. Pada beberapa budaya, definisi kecantikan versi yang ini memiliki pengecualian, seperti pada suku di Azande di Sudan timur. Mereka menyukai perempuan yang bertubuh subur, bahkan mereka malah melakukan praktik untuk membuat perempuan gemuk sesuai dengan definisi cantik yang mereka yakiini.

Bila diamati, pertanyaan tentang apa yang diinginkan laki-laki ini tentu saja dibentuk atas dasar tirani. Definisi kecantikan yang berubah-ubah sepanjang zaman ini, didefinisikan pada kebutuhan laki-laki terhadap nilai seksualitas perempuan. Tetapi perempuan (selalu) menyetujui apapun kecantikan yang didefinisikan oleh laki-laki. Dengan sadar atau tidak sadar, mereka pun berbondong-bondong mengikuti trend setter mode terbaru. Entah apakah tren itu sesuai dengan dirinya, pada kenyataannya, begitu banyak perempuan yang menjadi korban definisi kecantikan versi ini. Belum lagi, kasus gangguan makan seperti bulimia dan anorexia yang membahayakan dirinya disebabkan oleh bagaimana sistem nilai kecantikan versi yang diinginkan laki-laki.

Pertanyaan mengapa perempuan harus menerima perlakuan ini? Mengapa perempuan harus rela berbaring di meja operasi plastik, mengikuti diet ekstrim yang berbahaya, mengecat rambutnya dengan warna pirang, menyuntikkan botox di atas alis, meminum berbagai obat-obatan pencahar perut, memutihkan atau mencoklatkan kulitnya? Mengapa sebagai perempuan, ia harus selalu menyetujui dijadikan objek seks laki-laki? Bila laki-laki yang disukainya menyukai perempuan dengan tungkai kaki jenjang, ia kemudian mengutuk Tuhan yang memberinya tubuh mungi. Bila suaminya kemudian berselingkuh dengan perempuan lain yang lebih muda dan lebih langsing, ia kemudian mati-matian datang ke dokter kulit untuk mengencangkan kulitnya dan mengikuti diet ekstrim yang membahayakan kesehatannya.

Pertanyaannya adalah apakah hanya laki-laki yang memiliki fantasi? Tentu saja, secara lahiriah, setiap perempuan memiliki fantasi tentang laki-laki yang menarik versi setiap individu. Tetapi studi mengemukakan bahwa ketika perempuan ditanyakan tentang apa yang mereka inginkan dari laki-laki, maka mereka akan selalu menjawab variabel-variabel pribadi seperti penghargaan, ketulusan, dicintai, dimengerti. Tentu saja, hal ini kontras dengan apa yang diingikan laki-laki dari perempuan seperti yang disebutkan diatas. Dimana hal-hal tersebut terkait dengan peciptaan fantasi-fantasi seksualnya.

Mengapa pula seorang Fauzi Bowo malah menyalahkan perempuan yang berok mini sebagai pengundang syahwat laki-laki.. , sehingga tidak heran bagi masyarakat, sering kali didapati, pandangan “ooww..pantas dia digerayangi, bajunya kayak gitu sih”. Seakan bahwa seorang perempuanlah yang pengundang lelaki untuk berfantasi.padahal toh, sebenarnya setiap individu memiliki kontrol yang bisa disetelel baik dan buruknya. Tidak hanya satu faktor rok mini yang menjadi objek seksualitas pria berpikir mesum.
Dalam kehidupan nyata, seorang laki-laki mengemukakan alasan mengapa ia menikahi seorang wanita dengan rule inner beauty yang dibuatnya.

Variabel-variabel pribadi seperti baik hati, ramah, disukai teman dan keluarganya, pintar mengelola rumah tangga adalah variabel yang tidak bisa dilepaskan dari kriteria yang diinginkan laki-laki dalam memilih pasangannya. Tetapi, tetap saja laki-laki yang belum menikah ataupun yang sudah menikah, akan terus menerus menciptakan fantasi-fantasi seksualnya. Sehingga, benar seperti yang dikatakan orang bahwa laki-laki menyukai tiga hal yaitu Harta, Tahta dan Wanita. Coba tengok beberapa kasus perselingkuhan suami yang berdasarkan kejadian bahwa kedudukannya, harta yang dimilikinya, dan perempuan yang jatuh pada pelukannya.

Ada yang dengan bangga memamerkan hal ini ke permukaan, ada juga yang menutupnya rapat-rapat lalu berlaku bermuka dua dengan membungkusnya melalui atribut-atribut keagamaan.sum


Hai..tentu saja ini tidak bisa digeneralisasi sedemikian rupa. Setiap individu memiliki kontrol terhadap pilihan yang dibuatnya. Freud mungkin benar, bahwa Id yang mendrive sering kali menyulitkan ego untuk meredamnya. Tetapi kita memiliki super ego, yang mestinya ditanamkan kedalam hati dan bukan sekedar paksaan. Setiap individu juga memiliki kriteria unik dalam fantasinya. Tinggal penempatannya saja yang harus mengikuti apa yang dikatakan oleh superego.

Seperti yang kukatakan diatas..
Every human has control.
Apakah menahan diri??
Ataukah melepaskan?

Apa yang diinginkan laki-laki pada perempuan??
Mari kita bicara..tidak pada kebohongan.


sumber
Arivia, Gadis (2006) Feminisme sebuah kata hati. Kompas Gramedia Jakarta

sumber foto
howtomakeaguyfallinlovewithyou.net

Senin, 12 September 2011

Kamu, aku dan Kita

Akhirnya, ada kamu dalam hari-hariku. ada aku dalam hari-harimu. Dan kita memutuskan untuk tidak jatuh dalam cinta. Karena bukan jatuh yang kita inginkan, aku berkata aku ingin mengadakan cintaku untukmu. Kamu berkata aku ingin menerbangkan sayap cintamu padaku. Sayap yang terbang ke duniaku dan duniamu. Melenggang di angkasa raya, mengepakkan angin rindu. Terus mengepakkan sayapnya, dan mendarat pada dermaga biru kita. lantas kita bicara tentang kita, bukan lagi tentang aku dan kamu. Aku yang me-Mu dan kau yang me-ku.

Sayangku, bolehkah aku terangkan sedikit tentang arti kamu di diriku?
kamu adalah perasaan yang hangat di pipi merahku. Kamu adalah bintang yang berkedip jenaka di malam sepiku. Kamu adalah jalan pikiran yang melurus dan membelokkanku. Mendebarkan dan menegakkan adrenalinku. Kamu adalah jejak yang kupijak di tanah lempung basah. Kamu adalah penantian panjangku. Lelaki yang kutunggu pada suatu kursi di dermaga biru. Pada senja-senja yang jingga, dan cakrawala menyentuh bisiknya pada tepi dunia. Penantian yang dingin, sehingga aku perlu sweater magenta dan rok rajut hijau pupusku. Aku pun mengusir dingin, dengan menyeruput kopi krimmer hangat dan sepotong coklat. Kemudian menyilangkan kakiku erat-erat. Kadang embun menemaniku walau matahari hampir pergi. Dan aku masih berusaha mengusir pergi waktu yang mengusik, dengan membaca Benny and Mice. Tertawa sebentar.. lantas kemudian menangis karena aku ingat kamu. Mengapa kamu lama sekali menjemputku??

Tahukah kamu, Stok Benny and Mice-ku sudah berkali-kali kubaca, dan aku menoleh pada bunda Bulan yang menggelengkan awannya kepadaku. Menyuruhku segera pulang. Kadang aku pulang agar ibuku tak memarahiku, kemudian esok hari aku kembali lagi. Esok hari aku kembali duduk di kursi putih di dermaga biru itu..., hari-hari dimana aku tak lupa memulaskan blush-on warna tembaga di tulang pipi dan lipstik cherry bite ke bibir tipisku, siap-siap dengan senyum termanisku. agar aku selalu siap cantik saat kamu tiba-tiba datang menjemputku.


Dan suatu hari itu, ... kamu datang. Sebuah kapal tak besar dan tak kecil merapat di dermaga ini. Kapal pertama yang merapat, yang membutuhkan jangkar untuk mengokohkan. Kamu turun dari kapal itu, menghadirkan senyum khasmu, dan bunga crissant di pelukanmu. Lantas, melebarkan pandangan ke penjuru arah. Matamu melebar menyempit. Mungkin, aku terhalang oleh cahaya senja. Tapi aku melihat jelas alismu. Aaah... kamu mencari aku!!!!!! Tahukah kamu, saat itu, aku ingin berlari memelukmu. Aku ingin menenggelamkan kepalaku dalam dadamu. Andai, ego-ku berkata, baiklah akan kulakukan. Tapi tak kulakukan. Aku hanya duduk terpaku di kursi itu. Dengan coklat cadbury yang hampir melesak ke mulutku... aku terdiam. Hanya memandangmu lekat-lekat. Apakah kamu berjalan mendekat?? Dan ya.... kamu mendekatiku. 10 meter dari tepi dermaga. 9 meter. 8 meter. 7 meter..... 30 cm... dari ujung hidungku. Aku tak percaya..ada kamu, dengan rambut ikalmu, berdiri di hadapanku. Aiiih..Cupid pasti tidak sedang ngantuk dan melesatkan panah asmaranya ke aku. Tapi iya... ada kilau di matamu. Kamu memang mencari aku.. memang kamu. Seketika rencana penyambutanmu, yang sudah kupersiapkan sejak lama, seperti dihapus oleh angin. Burung-burung gereja menertawaiku dari pucuk tiang listrik. Mungkin, dia heran, koq aku bisa-bisanya diam setelah penantian panjangku.


Satu hal yang aku suka, kamu datang.... masih dengan topi base ball mu, t-shirt dan jeans sekenamu. Yayyyy... aku suka gayamu. Kamu tepat seperti di bayanganku. Tapi tanpa kacamata ataupun topeng muka. Aah, tak apa, toh, kamu bukan tuxedo bertopeng nya Sailormoon atau rudolfonya Little Missy. Kamu, 30 cm di hadapan hidungku. Rambut ikal, dan kulit yang sedikit terbakar. Dan bayangan yang mengikutimu, mengangguk kepadaku. Lantas, kita tercekat. Menahan sesak, rindu yang dalam. Dan kamu membuka percakapan. Sebutir air mata tanpa izin meleleh di pipi gembilku. Dan kamu, berkata “ Hai.. apa kabar?”. Aku masih diam. Aku pikir aku masih bermimpi tentang kamu dari kasur tempat tidurku. Mencubit sedikit tanganku. tapi ternyata kamu ada. Aku pun tersenyum.... manis.. hangat... dan santun, seperti layaknya putri yang menanti pangeran. “ hmm.. oh.. ya.. hmm.. ba..ik” . Memiringkan kepalaku, lalu kemudian kemballi duduk di bangku dermaga itu. Tanpa dipersilahkan duduk, kamu pun duduk 30 cm dari posisiku. Meletakkan wajahmu di depan wajahku. Memandangku lekat-lekat. Aku pun menjatuhkan wajah pada kaki. Tahukah kamu... aku malu , tauuuu??
aku hampir saja menutup wajahku dengan telapak tanganku. tapi kamu buru-buru dengan beraninya menyentukku ujung jarimu pada daguku. sekali lagi aku tersenyum. Malu.
kemudian menatap kedalaman matamu. mencari-cari. siapa kamu...???


Tapi..oh.. sayangku, mengapa ku lihat ada bekas luka di wajahmu. Kusentuh lukamu..dan kamu meringis.. menahan pedih. Seketika aku tahu...betapa panjang perjalanan dan betapa sulit untukmu menggapaiku. Mungkinkah kamu harus mengarungi samudera dan mendaki gunung untuk bertemu denganku?? Ataukah kamu bertarung dengan naga raksasa dengan api yang menyembur??? Atau mungkin kamu harus singgah pada suatu dermaga lain, berpikir untuk menetap disana untuk selamanya, tapi kemudian, ternyata dermaga itu terkoyak oleh suatu badai?? Mungkin saja.. dan kamu memutuskan untuk pergi dari dermaga itu, membiarkan sakit itu diobati oleh waktu, dan masih mencoba mencariku.

akhirnya.. hari itu.. aku mengenalmu. Membiarkan kamu masuk dalam duniaku. Menamaimu dengan satu kata yang membuatku malu-malu.. Baiklah, bagaimana bila aku memanggilmu “Kekasih”. Kamu dan aku mengangguk setuju. Jari-jari kita pun berkhianat pada superego dan pesan ibuku.., hari itu, aku membiarkanmu mengenggam jemariku. Seakan kamu tak akan membiarkanku pergi dari dirimu. Lantas, kita duduk bersama di kursi putih dermaga biru itu tadi. Alih-alih bicara tentang perjalananmu dan penantianku. Kita bicara tentang satu tempat dimana kita bertemu dalam mimpi. Satu tempat dimana aku tak melihat bekas lukamu, dan aku mengenakan gaun berenda merah muda silver dan hiasan baby breath di kepala. Satu tempat, dimana sinar matahari selalu hangat, dan bunda bulan selalu penuh. Dan kita berdua duduk pada ayunan, dan menyantap roti bakar selai nanas dan menyeruput kopi hitam. Oh.. aku menamakannya dengan kata yang dicari orang seluruh dunia. Namanya Bahagia.

Pada awalnya, aku masih tidak bisa mencerna mengapa aku memegang rinduku erat-erat kemudian melepaskannya jauh-jauh untuk mendarat di kulit wajahmu. Aku masih tidak bisa mengemukakan rasa dalam bahasa logika, karena kamu seperti diluar rasio terdalam. Intuisiku terbelah, antara menafikkan dogma dan mengagungkan rupa kebebasan. Tapi kamu, dengan ketujuh rupa kasih sayangmu, meluruhkanku. Tapi kamu, dengan sapaan lembut di telingaku, menggelitikku. Aku sedang enggan berdebat dengan waktu, tentang siapa kamu. Tak peduli, dengan cerita masa lalu, aku dan kamu, menautkan jemari, dan berlari menuju bukit. Bukit dimana tak ada satu orangpun yang mengintip dan menertawakan bahasa aneh kita. Tak ada Masa Lalu...., yang menjerat masa depan. Hanya ada rencana dibalik rencana... rencana teraneh dan terburuk sekalipun, berada di bawah meja. Meja usang yang disulap menjadi kemegahan. Dan kita berunding tentang berapa banyak bintang yang akan kita tabur di langit rumah kita.

Aku dan kamu masih berjalan...
Diatas tanah air negeri kita.

Sayangku.. bolehkah aku tidur dengan ada kamu disampingku???
Tentu saja.. kamu harus menggenggam tangan ayahku dahulu...
^_^


Nina
waiting for the Big day..

dan kepercayaanku bahwa Cinta seperti Udara.

Jumat, 02 September 2011

Not a Simple Life



Tengah malam. Cuaca sungguh sangat terik walau malam akan beranjak pergi. Ku terjaga dari mimpi yang buruk. Beranjak dari tempat tidur dan kemudian menyalakan tivi. Menikmati Glee di Star World tapi tak memasuki Edisi Madonna-nya para Gleers. Membuka laptop dan berbicara sendiri. Apa yang ingin kutulis hari ini? Lalu kuteringat pada situasi mimpi beberapa menit tadi. Aku seperti merasakan kepedihan dalam perutku. Mimpi yang sungguh amat buruk.

Mimpi yang bercerita tentang sisi gelap manusia. tentang sisi hitam yang memutih dan sisi putih yang menghitam. Tentang shadow yang mengikuti manusia melangkah, tentang bentuk-bentuk dari topeng yang dikenakan manusia, tentang id, ego dan super ego, tentang rasa sakit ditinggalkan dan rasa senang yang dilepaskan. Mimpi ini sungguh simbolik dan membuatku sadar bahwa aku harus menyampaikan pada waktu. Seperti pesan dari alam bawah sadar yang mengangkatnya ke permukaan gunung es kesadaran. Aku tahu, ada sesuatu dalam tanda. tanda yang hidup dan berbicara pada kita.

Hidup adalah menghidupkan rangkaian episode yang dihadirkan oleh waktu. Kita lahir, kemudian dibesarkan, kemudian sekolah, kemudian bekerja, memadu kasih, dan kemudian menikah, memiliki anak, membesarkan anak-anak, memiliki benda-benda, memiliki penghargaan, kemudian pensiun, dan yang terakhir adalah mati. Life’s clock yang semestinya ada dalam hidup manusia. tapi tidak semua manusia, bisa melalui life’s clock yang semestinya kata superego ada dalam hidup manusia. Kita lihat, yang pasti kita dianugerahi satu roh untuk hidup di dunia ini.

Ada yang hidup, tapi tidak dibesarkan oleh orang tua. Ada yang tidak disekolahkan, tapi tetap hidup. Ada yang bernasib, tidak memiliki indra sempurna, tapi tetap bekerja. Tapi ada juga yang memiliki indra sempurna, tetapi tidak bekerja. Ada yang tidak menikah, dengan berbagai alasan, ada yang memutuskan tidak menikah dengan berbagai alasan. Namun ada juga yang menikah, dengan beribu alasan. Ada yang menikah, tapi kemudian mengkhianati pernikahannya. Ada yang dihianati dan memutuskan tetap meneruskan pernikahan. ada yang memiliki banyak hal, tapi tidak bahagia. . Ada juga yang memiliki sedikit benda, tapi selalu tersenyum setiap paginya. Setiap manusia memiliki jalannya sendiri-sendiri. Gelap dan terang.. terang kemudian gelap, begitulah jalan-jalan kehidupan. Tak ada papan nama yang terpampang, tak ada juga tempat untuk berteduh dan bertanya. Berjalan , terjerembab, tertatih, merangkak, berlari, semua mengarah pada satu arah. Setiap kita berjalan dengan kaki sendiri, dan mencapai finish sendiri.

Lalu pertanyaanku masih tentang mimpiku mengarah pada satu pertanyaan. Tentang hubungan horizontal dan vertikal. Apakah kebahagiaan yang kita cari? Lalu pantaskah kita mengatasnamakan kebahagiaan pribadi diatas hal-hal yang telah kita dapatkan tapi tidak kita harapkan? Pantaskah kita tidak bersyukur pada segala sesuatu yang kita butuhkan tapi tidak kita inginkan?


Aku pun kemudian merenungi satu surat pendek dalam Al-Qur’an. Bahwa sesungguhnya manusia sungguh dalam keadaan merugi. Demi waktu yang terpacu, bahkan kebohongan-pun tak bisa melakukan sesuatu pada waktu. Kita terus hidup dalam pengandaian yang direkam untuk membohongi cermin, kita pun hidup dalam perangkap topeng yang dikenakan ketika berhadapan dengan orang-orang. Orang-orang yang “Perlu” untuk mengetahui bahwa kita “baik-baik” di dalam topeng itu.

Kadang sandiwara seakan semakin membuat tergelak, ketika topeng tak ditempatkan pada suasana yang tepat. Suatu ketika, si fulan mengenakan topeng badut dalam upacara kematian. Atau suatu ketika si fulanah mengenakan topeng berduka pada hari raya. Sandiwara juga membuat hatiku teriris, ketika mengetahui akhir dari suatu kisah tidak selalu bahagia. Bahwa cinderella selalu menanti pangerannya menjemputnya ke istananya, bahkan ketika sepatu kacanya menghiasi kaki keriputnya, dan gaun indahnya tak lagi membuatnya bersinar seperti putri. Bahwa seorang ibu, tak selalu menemukan anaknya yang hilang dalam medan perang. Ataukah seorang gadis yang dikhianati kekasihnya, dan kemudian (tanpa logika) , ia memutuskan mengakhiri hidupnya. Seperti kata sang pengarah gaya, dunia kadang memang tidak adil.

Ada cinta yang tidak selalu berawal dengan pernikahan. tapi ada pernikahan yang tidak selalu diakhiri oleh cinta. Ada egoisme yang meluluh lantakkan segala yang dia telah punya. Ada komunikasi yang sulit, tapi memaknai cinta. Ada komunikasi yang mudah, tetapi menafikkan ketulusan cinta. Setiap kita bertanya, mengapa harus aku yang mengalaminya? Mengapa harus aku, bukan dia? Mengapa harus kami bukan kalian? Mengapa harus .... terjadi, Tuhanku?

Bertanya dan terus bertanya, pada beberapa orang malah mempertaruhkan keyakinan. Pada beberapa orang lain, mengeratkan keyakinan.

Dan penyesalan selalu terletak di akhir. Tak pernah di awal cerita. Suatu set ending yang mudah diduga. Tapi jarang sekali, orang menyadarinya. Mereka biarkan saja, id menjalar ke aliran darah dan membisiki daun telinga, atau bahkan super ego yang menudungi kepala dan membuat perisai sedemikian tebal. Si Ego hanya terdiam, tertunduk... kemudian memutar perasaan dan otak untuk mengalihkan kebohongan pada cermin. Menyusun kata palsu pada pena, pada kamera, pada audiensi yang bertepuk menggema.

Lalu apa yang ingin kuceritakan malam ini, kawan?
Tentang kejujuran.
Tentang keselarasan.
Pikiran, perasaan, dan tingkah laku.
Tentang kebahagiaan yang dicari-cari dalam saku celana.
Tentang kebersyukuran
Tentang rasa cinta pada Sang Maha Kuasa yang Maha Pemberi Cinta.
Tentang harapan dan Kemungkinan
Tentang pergi atau tetap tinggal
Tentang rasa sakit, tersakiti, dan menyakiti.
Tentang angka. Tentang logika.
Tentang Pencarian Makna
Tentang perjalanan dan arti dari kata “memberi dan menerima”

Kawan, bila bagaimana kita menjalani hidup adalah sebuah variabel. Variabel memang tidak selalu dikotomi antara 1 dan 0. Dan takdir adalah konstanta. Maka persamaan matematis kehidupan , akan selalu sama dengan nol. Itulah awal dari hidup kita, dan akhir dari hidup kita.

Waktu tak akan pergi sekalipun kita mengeluh. Ia tak kan menangis walau kita mengiba. Kecewa, terluka, terhempas, tak berdaya... tak satupun yang bisa waktu lakukan untuk membantu kita. tapi kita punya variabel kuat yang mendifferensial dan mengintegralkan kehidupan kita. setiap manusia punya pilihan, untuk sendiri atau bersama. Untuk selingkuh atau setia. Untuk terus atau berhenti saja. Untuk berbicara atau diam. Untuk menghargai atau menhardik sedemikian rupa. Untuk menjaga atau melepaskan yang telah dibina.

Lalu apa yang harus kita lakukan????
Tuhan pasti sedang tertawa ketika aku menuliskan posting blog ini, kawan. Aku sedang tidak sedemikian resahnya untuk tidak berkata bahwa aku tidak baik-baik saja. Seketika aku ingat... waktu hampir menjejakkan pada subuh. Dan aku rindu mengadu pada-Nya. Kali ini, Ar-Rahman semakin lembut di telinga. Tuhanku... , ternyata tidak sederhana.

3 september 2011
Insomnia
Hari raya
dan kebermalasan yang terpasung dalam kepala.

Senin, 22 Agustus 2011

Marry in Subjective View



Mengapa kamu menikah?

Karena bagian dari sunnah rasul. Aku ingin menjalankan apa yang diperintahkan Allah yaitu dengan menikah. Dengan menikah, hati akan terasa tentram . Ada tempat untuk kita berpulang. Ibadah juga terasa indah. Kan, kata rasul, menikah itu adalah menggenapkan separuh agama. Dengan menikah, seluruh kehidupan kita akan terpelihara dari hal-hal yang tidak-tidak. Klise ya.. everybody know sebenarnya. Terdengar nggak subjektif. Apa aku terlalu normatif, tapi yach, aku hanya berharap bisa menjadi muslim yang baik. Begitu, nina..^^


Mengapa kamu menikah?

Emak gue dah nyap-nyap, secara usia gue dah lewat 30 tahun. Gue dah gak tahan lagi dengerin emak gue yang ngomel mulu tentang hidup gue. Dia bilang gue ini gak jelas hidupnya mau kemana. Entahlah, rasanya gue juga dah capek di kelilingi sama orang-orang yang ngomentarin hidup gue. Gue sebenarnya masih pengen sendiri. Masih banyak yang ingin gue capai. Tapi ya itu.. gue sadar harus lebih realistis dalam memandang hidup in i. Gak mungkin gue seperti ini terus. Gak mungkin sendiri terus, dengan banyak hal yang belum gue capai. Di keluarga besar gue, diajarin bahwa perempuan gak akan berarti kalau gak punya suami. So, kelihatannya perempuan tidak menarik bila tidak ada yang menginginkan. Jadi, ketika ada yang mau ma gue. Nerima gue keadaannya kayak gini. Walaupun, yach, jauh dari apa yg gue harapkan. Gue dah gak tahan lagi dengerin omelan emak gue, ya udah, gue terima aja dia. Yach, semoga ini adalah jalan yang terbaik buat gue. Gue gak nyesal koq dengan keputusan gue. Semoga aja, gue gak nyesal..


Mengapa kamu menikah?


Gue dah melakukan banyak hal dengan pacar gue. Hal-hal yang sebenarnya sepantasnya dilakukan oleh pasangan suami istri. Gue dah beberapa kali selingkuh. Cowok gue juga kayak gitu. Jadi kami, dah melewati banyak episode bersama-sama. Kami dah kelamaan pacaran. Kadang merasa bosan, mau ngapain lagi. Keluarga juga dah wanti-wanti karena gerah juga kali ya ngelihat kita yang gak jelas mau kemana arahnya. Gue dah kerja, dia juga dah kerja. Jadi secara finansial, kami sebenarnya gak ada permasalahan berarti. Lebih baik lagi, kalau jadi satu. walau sadar, ini tidak mudah. Pacaran ma menikah, kata orang berbeda. Tapi yach.... begitulah. Jalanin aja yang ada...


Mengapa kamu menikah?

Aku sebenarnya gak kepikiran untuk menikah di usiaku ini. Kuliah aja belum selesai. Masih semester 6. Aku aja masih kayak anak-anak gini. Masih suka main ke mall, masih suka kongkow-kongkow ma temen-temen. Tiba-tiba aja, ada seorang yang datang di kehidupan gue. Dia datang dengan kebaikan yang bisa gue lihat di kehidupannya, dia punya tanggung jawab penuh, tahu apa yang ingin dia lakukan, dan dia punya perencanaan matang . secara usianya memang jauh diatas ku. Dia datang ke orangtua ku, dan taraaaaa.... kurang dari tiga bulan, aku dah jadi nyonya. Kuliah masih terus lanjut koq, dia mendukungku. Sekarang, lebih tenang aja. Pastinya ada perbedaan dibandingkan waktu belum menikah. Sekarang, aku punya tanggung jawab sebagai istri dan tahu bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan sebagai istri. Alhamdulillah... ^_^


Mengapa kamu menikah?

Aku capek sendirian, nin. Capek menghadapi hidup yang sepertinya makin keruh. Dari kecil, aku menjalani semuanya sendiri. Keluarga juga aku yang menopang, semenjak bokap ninggalin kami sekeluarga. Umurku sudah cukup, aku juga merasa cukup secara mental. Dengan menikah, aku bisa berbagi, nin. Bisa melihat segalanya tidak hanya dari kacamata pribadi. Ada banyak hal yang bisa aku eksplorasi dari diriku. Nah itu dia... I just found him. You know where?? Di sebuah biro jodoh di Jakarta. Aku ketemu dia, kita ngobrol, nyambung, dah satu visi. So, tunggu apa lagi... i wanna do it.


Mengapa kamu menikah?

Well.. mau yang jujur khan?? Aku butuh status. Mau jawaban lebih lanjut???
Yeah.. nanti loe bakal bilang gw penulis skenario sinetron lagi... yach, intinya gitu. Gue butuh secure secara finansial. Dan dia ngasih gw gerbang untuk mendapatkan hal itu. So.. hidup ini matre, nin. Sekali lagi, hidup ini matre. Gw gak peduli, kalo nanti suami gw bakal selingkuh, yang penting, gue adalah istri dia dan dia hidupin gw. Titik. There’s no other reason. Mungkin ada.. tapi well... gw hanya mau survive. Gw cantik. Dia mau mau gue. That’s all.



Mengapa kamu menikah?

Gue dan cowok gue itu soulmate. Kami banyak menikmati masa-masa bersama. Belum lama-lama banget sih pacarannya. Tapi gw merasa benar-benar klik. Gue sama-sama punya hobby fotografi, travelling, nonton... banyak hal deh yang gw sama ma dia. Diskusinya juga asyik. Gue gak bisa ngebayangin hidup kalo gak ada dia. I love him. He loves me.. we are in love and hopefully love each other until the end. Dari awal, kami memang mau mengarah ke serius. Jadinya, pas tabungan kita udah cukup. Kami tinggal menghadap orangtua, dan orangtua bilang oke. so.. jadilah gw the bride . hehehehe... 

Mengapa kamu menikah?
Hmmm... loe tau gw dah dua kali gagal menikah. Tapi gw gak pernah bilang kapok untuk gak mau menikah. Kenapa?? Karena gue tahu, gue layak dicintai. Kegagalan menjelang pernikahan gue yang dulu, bukan karena kegagalan gue, kegagalan mantan calon suami gue. Walaupun gue akuin waktu itu gue sempat terpuruk. Tapi memang gue gak buat dia. Dan dia gak buat gue. Intinya..gak jodoh deh. Karena gue percaya manusia itu dah diciptakan berpasang-pasangan. Nah, pas gue ketemu sama calon suami gue yang sekarang. O Tuhan.. gue bersyukur banget. Semuanya sekakan langsung dibukakan. Dan gak lama dari gue dikenalin oleh temen gue.., dia nyatain suka. Gue juga belajar untuk mengetahui bahwa lebih baik dicintai daripada mencintai.. then.. kita jadian, ngadep ortu. Dah.. merid. (tersenyum lebar... ). Rasanya menyenangkan.. menenangkan.. dan menggetarkan. Let you try it..

Mengapa kamu menikah?
Mau jawaban yang jujur, kan?? Dan subjektif?? Holaaah... gw coming out hanya ke elo doang nich. Tapi you have to keep the secret ya. Listen to me carefully... “ I am Gay”. Jangan kaget gitu wajah elo, gw tau elo pasti dah ngira-ngira dari awal kenal ma gue. So, kenapa loe tanya ke gue kenapa gue mau merid?? Karena gue tau di keluarga gue, Gay itu berarti mati, gak dianggap keluarga lagi. Gue gak siap dengan segala vonis itu. Jadinya, gue menikah untuk menutupi identitas gue yang ini. Gue sadar ini salah, tapi gue terpaksa ngambil keputusan ini. Hidup dalam kebohongan. Gue juga sadar kasihan banget dengan istri gue, tapi gue mau gimana lagi.. (tercekat), gue mau hidup normal kayak laki-laki biasa. Gue berusaha keras menjadi laki-laki biar istri gue gak tahu hal ini. Dan gue masih terus berusaha keras untuk ini.

Mengapa kamu menikah?

Aku sudah mengidam-idamkan pernikahan dari sejak aku berusia lima tahun. Pernikahan yang kubayangkan seperti putri yang dipinang oleh seorang pangeran. Oleh karena itu, aku berusaha untuk mendapatkannya. Aku selalu ingin menjadi yang tercantik , dan aku merasa layak menggandeng pria tampan. Aku ingin nuansa pernikahan seperti layaknya putri kerajaan eropa, di sebuah hotel mewah, dengan iringan musik klasik, dan taburan bunga segar. aku ingin bulan madu di tempat romantis mungkin di paris atau swiss. . aku sudah membayangkan semuanya Aaah.. indah banget bukan?? Terus apa yang kulakukan setelah menikah?? Hmm.. aku tidak tahu pasti. I just wanna prepare for the wedding.. ( mengangkat bahu) . hmmm..sepertinya aku jadi ibu rumah tangga yang bakal punya anak banyak. (membuka matanya lebar-lebar), aku suka anak-anak.

Mengapa kamu menikah?
Aku menikahi dia, karena orangtuanya memintaku menikahi putrinya. Pernikahan ini pernikahan bisnis. Aku dah kerja lama di bisnis keluarganya. Mereka mengharapkanku dapat membantu mengembangkan bisnis ini. Apakah aku cinta dengan anaknya apa bukan, itu masalah belakangan. Aku tahu ini suatu tanggung jawab besar. Anaknya masih kecil. aru saja lulus SMA kemaren, tapi aku yakinlah, aku bisa menjadi imam yang baik untu keluargaku nantinya. Cinta bisa datang dengan sendirinya . aku hanya ingin membentu keluarga sakinah, mawaddah warrahmah. Doain ya..

Mengapa kamu menikah?

Boww.. gue dah 9 tahun pacaran. Buat apa lagi lama-lama. Gue dah lama memundurkan waktu. Kasihan ma dia. Pas gue bilang ayo lakukan..so, gak nyampe seminggu, gue ma dia mendadak menikah. (ketawa... ). Alhamdulillah.. gw dah parno sendiri kalo denger cerita orang-orang yang bilang kalo pacaran lama itu bisa jadi gak jodoh. Pacaran ma siapa..nikah ma siapa. Tapi ya ini.. we are already marry dan semuanya jadi lebih indah sekarang. Gw dah gak perlu pulang-pulang dari rumahnya.. secara rumahnya dia rumah gue juga. Hehehehe.

Mengapa kamu menikah??
Aku mau membuka lembaran baru, nin. Setelah kegagalan pernikahanku yang pertama. Aku tahu kalau aku juga harus menghadirkan sosok ayah ke anakku. Aku gak mau gagal lagi. Jadi ketika dia datang kepadaku dan menerima keadaannku, menerima anakku, dan aku merasa nyaman dengan dia. Dia menghormatiku, dan aku yakin dia tidak akan pernah memukulku atau mengatakan hal-hal kasar kepadaku karena satu kesalahan kecil yang kulakukan. Aku mengikuti kata hatiku.. aku ingin hidup bersama dengan dia sampai nanti aku sudah nenek-nenek. Aku ingin mati dalam pelukannya. (halah.. aku romantis banget ya). Yach, nin... aku bisa menyembuhkan sedikit demi sedikit trauma ku ketika bersama dengan dia. Bismillah aja nin..semoga ini yang terakhir. Aku berdoa selalu untuk ini. Tidak hanya untukku, tapi juga untuk anakku.. Semoga dimudahkan segala sesuatuny Doain ya nin... 


Pernyataan-pernyataan ini merupakan serangkaian wawancaraku dengan beberapa orang yang mendasari mengapa seseorang menikah.
Well.. ini adalah satu dari sekian banyak alasan mengapa seorang menikah. Setiap orang memiliki alasannya sendiri, rasional maupun tidak rasional. Emosional, intuisi, semua elemen dari indrawi dikerahkan untuk mendeteksi alasan mengapa kita ingin menikahinya. Pertanyaan ini sepertinya sangat essensial bagi mereka yang perlu mendalami hati.
Nah.. untuk mereka yang sedang merencanakan untuk menikah,mungkin sebaiknya anda perlu menanyakan kembali, alasan mengapa ingin menikah dan mengapa anda ingin menikahinya. Untuk mereka yang belum menikah... pastikan bahwa anda merasa bahwa anda memang merasa bahwa menikah adalah salah satu cara bagi anda untuk meraih kebahagiaan. Untuk mereka yang telah menikah.. well, ingat lagi, apa tujuan anda untuk menikah, seperti yang telah anda ikrarkan di hadapan penghulu pernikahan anda . Tanyakan pada diri anda sendiri: apakah anda menghadirkan diri secara utuh ketika menikah?? Menjadi diri sendiri dengan alasan yang jujur.. akan menghadirkan kebaikan pastinya. Tanya pada diri..sesubjektif mungkin. Percayalah... ini akan membantu..


22 Agustus 2011.
Karena aku percaya Cinta tidak butuh pernikahan
tapi Pernikahan Butuh Cinta.

dan Cinta masih seperti Udara.
^_^

Selasa, 17 Mei 2011

Story of the Songs


A wonderful world. Louis Amstrong tentunya tahu dunia ini sangat indah dan juga bagaimana membosankannya kertas buram. Tanpa coretan pensil warna. Kertas hanya sekedar kertas. Tanpa tulisan apapun yang memaknai. Tanpa pengantar, isi, dan penutup. Tanpa times new roman, comic sans atau arial. Tanpa do, re,mi, dan kressindo. Tanpa numeric dan barisan rupiah. tanpa bait-bait puisi kerinduan, tanpa garis-garis cantik . Hanya titik-titik hitam kelabu. Hanya secarik kertas buram yang Muram. Ia berakhir menjadi abu, kemudian terbang tertiup angin. Diam dan Terlupakan.tapi toh, Louis bilang… World is still wonderful. No Matter what. Tanpa atau Ada Kertas Buram yang Muram.


Time is Running Out. Muse. Grup ini pasti tau dengan pasti waktu bukan hanya sekedar berjalan. Tapi berlari dengan kecepatan pasti. percepatan yang membuatmu terkaget-kaget bahwa usiamu berubah digit. Mau leave or take… toh, waktu tak peduli. Ia tetap berdesis-desis menggerakkan rodanya. Tak akan berhenti pada satu moment dimana kamu lupa memakai pelindung kepala atau pakaian anti dingin yang akan kamu temui di jalan-jalan gelap. Atau memohon diberikan satu cahaya untuk penunjuk arah jalan agar tak tersandung batu granit kesulitan. Waktu tak akan mengabulkan permohonanmu untuk mengembalikan wujudmu seperti kayuhan rodanya yang lalu. Waktu juga tak akan senang hati melambatkan kecepatannya agar dirimu bisa dengan merajalela melakukan prokrastinisasi terhadap tugas-tugas realitas. Toh, waktu sudah mengingatkan padamu. Dia bukanlah sahabat baik untuk mereka yang suka menunda. Ia juga bukan sahabat yang baik bagi penjual krim anti kerut yang dijajakan di pasar. Sang penjual mati-matian merayu seorang wanita setengah baya untuk membeli krimnya seharga sepuluh ribu rupiah. Tapi kemudian wanita ini memaki-maki krim tersebut dengan mengatakan bahwa krim ini justru membuat kerutannya semakin menjadi-jadi. Dan sang waktu tertawa geli.. tetap tak peduli. Cambukkannya pada kuda pacu semakin menjadi-jadi. Ia pun kembali menggerakkan rodanya ke arah yang tak diketahui.

I’m like a bird. Nelly Furtado. Aku ingin sekali menjadi seekor burung. terbang kemanapun aku suka.bila panas.. mencumbu, aku akan menjentik-jentikkan sayapku kepada angin. Bila dingin menyapa, aku akan merapatkan pelukanku pada pohon gagah yang menjulang ke angkasa. Aku akan mencicit lapar kemudian mematuki padi pematang sawah. aku juga akan mengumpulkan jerami dan mengerami telurku hangat-hangat. Mengajari si bayi burung terbang tinggi-tinggi. Tertawa menantang langit. Meluncur di sabuk pelangi. Mengintip bidadari mandi. Menggoda beruang salju yang tidur berdiri. . Aku adalah burung yang menyebarkan wangi vanilla ke penjuru bumi. Bahasaku penuh arti . Dalam putih yang damai, dan binar-binar.

Freedom. David Foster. Tak ada yang tahu kemana kakimu melangkah. Tak ada yang tahu kemana wajahmu berpaling. Tak ada yang tahu kemana arahmu tertuju…, yang ada hanyalah senyuman kebebasan. Dan lompatan-lompatan riang molekul oksigen. Bernafas seperti embun. Bernyanyi seperti bisik angin. menyentuh bening hati dalam bahasa diam. Melengkapi tanpa mengurangi. Mencintai tanpa setitikpun membenci. Mendengarkan tanpa menginterupsi. Memahami tanpa melawani. Menerima namun juga memberi. Menghendaki, namun juga menghadiri. Aku adalah kebebasan yang dihirup tanpa henti. Menikahiku memberimu satu arti. Bahwa cinta ada selalu dalam mata hati. Dan membiaskan merah pada pipi. menyangkutkan geloramu pada bulan. Mendendangkan kisahmu pada bintang. sendiri tapi tak sepi.diam tapi tak menyendiri. .


I finally found someone. Barbra Streisand dan Bryan Adams. Bersamamu. Aku menemukan cahaya lembutku. Bersamamu. Aku menatap danau dingin namun menghangatkan. Bersamamu. Tepian jiwa seakan sunyi dengan kegaduhan. Bersamamu. Menemukan bahagia yang dibungkus selimut bayi. Bersamamu. Menarik senyumku dalam sudut manis. Meletakkan baik-baik cintaku pada tempat teraman di surga. Bersamamu. Kerumitan menjadi sederhana. Mengecup bayangmu di setiap malam. Menyentuh jarimu di senja riang. Melirik malu-malu di setiap cengkraman. Berbagi. Berbakti. Berhati. Berjadi. Berlari diantara padang basah hujan tadi. Tertawa. Menyesapi kopi pagi. Membagi roti. Melanutkan mimpi tinggi-tinggi. Kamu adalah rintik hujan dan langit cerahku. Kamu adalah awan bulat dan biru lautku. Kamu adalah pasir putih dan karang terjalku. Kamu adalah semesta. Dalam diagram venn tak terhingga. Bukan antara 1 dan 0. Bersamamu, tak pernah ada titik karena selalu ada koma. Bersamamu, selalu ada coklat dalam saku kemeja. Bersamamu, ada film lama yang diputar di bioskop tua. Bersamamu, Jazz menyentuhkan warnanya pada sofa merah. Makan malam dengan lilin-lilin biru dan taplak ungu perak. Musik klasik dari speaker tua di ujung ruang perpustakaan kota. Membingkai foto-foto kita berdua yang diletakkan pada tembok jingga. mawar putih dan kuning berkerumun di petak taman. Bersamamu, aku selalu bebas memakai red shoes dan rok rajut sekenanya.Bersamamu, kita selalu menghabiskan menatap senja di dermaga. berdebat tentang bagaimana cara memotong senja. lalu kemudian terkikik bersama. tak mungkin Tuhan bersedia meminjamkan senja untuk kita bawa pulang ke rumah kita. Bersamamu, petal rose mengecupkan warnanya pada bibirku. kemudian peach manis dan cherry bite. Kamu selalu mengajakku menautkannya di jari-jarimu. Jari-jari yang basah oleh janji. Bertaut dalam ikatan yang dimengerti. Seperti yang kukatakan padamu, tadi. Bahagia yang dibungkus selimut bayi.


I knew I love you. Savage Garden. Intuisi. Apa kamu pernah berusaha mengingatku di masa lalu? Aku seperti mengenalmu seumur hidupku. Lebih dari berjuta-juta tahun yang lalu. Ketika bertemu denganmu, aku selalu merasakan hangat di dadaku. Aku selalu merasa seperti ada bening air yang melintas di pipiku. Aku selalu merasa beruntung memilikimu. Tak pernah ada lelaki sepertimu. Datang dengan secangkir kopi krimmer hangat kesukaanku. Satu sendok the kopi, dua sendok teh gula, dan tiga sendok teh krim. Kamu selalu tahu bagaimana cara membahagiakanku. Bukan hanya di setiap pagi. Tapi disetiap episode hari tanpa peduli waktu yang mencibir dan melakukan hal-hal yang tidak-tidak pada pipiku. Saat itu, tiba-tiba aku merasakan. Kedalaman. Kebenaran. Kegilaan.. Semua ada dalam dirimu. Semua ada dalam diriku. Semua ada dalam diri kita. keabsurdan yang melogika. Hai, bukankah kamu selalu mengatakan. Cinta tak butuh logika? Tapi kurasa, Einstein pun setuju mengapa aku memutuskan untuk dipilih olehmu. Karena senyummu begitu menyayangi. kebebasan yang menyelimuti. Karena imajinasimu begitu nyata di mata hati. Aku merasakan kerinduanku padamu di dalam perutku. Seakan kamu selalu menggelitikku dengan mengerjapkan mata jenakamu. Aku merasakan cumbu dalam kepalaku. Seakan kamu menyentuh warna-warna dalam cerebellum dan cerebralku. Aku merasakan keberanian yang nyalang di matamu. Aaah.. Nyata, ……. Aku rindu kacamatamu. Dan buku-buku tentang mu. Dan gitar-gitar tuamu. Dan sensasi memandang wajah bingungmu dini hari. Organisasi hari.. organisasi hidup memaknai. Organisasi jiwa dan hati. Dan kita berasyik masyuk dalam diskusi. dalam gemuruh dada yang berguncang. Malam yang selalu panjang. Bersamamu. Aku tahu aku Mencintaimu… lebih dari yang kamu tahu. Entah kapan. Aku tak tahu.


17 Mei 2011
new room.. without friends, vanilla and coffee.
hujan turun sore tadi.

Melebarkan pandanganku ke penjuru.
Mencoba menemukanmu. dalam diriku.
kemana saja, kamu?

dan aku masih tersenyum menunggu.

sumber gambar : http://www.curatedmag.com/news/wp-content/uploads/2009/01/ks-whatawonderfulworld-1.jpg